Langsung ke konten utama

Celupkan Jarimu Ke Air Lautan (Taufiq Ismail)



Bertanya seseorang pada junjungan kita;
Wahai Rasulullah tercinta
Bandingkan dunia kini dengan akhirat nanti

Menjawab Rasulullah Sallallahu’alaihiwassalam;
Celupkan jarimu ke air lautan
Air yang menetes dari ujung jarimu
Itulah dunia seisinya
Air yang selebihnya di lautan
Air yang seluruh di samudra
Itulah akhirat nanti

Wahai alangkah kecil arti dunia
Wahai alangkah kerdil arti dunia
Wahai alangkah remeh arti dunia
Wahai alangkah wahai
Tak berartinya dunia

Yang mengejar akhirat
Akan mendapatkan akhirat dan dunia
Yang mengejar dunia
Cuma mendapat dunia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INI CITA-CITA KU!

Cita-cita dan harapan, dua kata yang hampir bermakna sama. Saya lebih suka menyebutnya dengan cita-cita. Cita-cita dahulu dan kini memang bisa berbeda. Jika dahulu saya punya cita-cita untuk menjadi seorang dokter, maka hari ini saya tinggikan cita-cita saya, menjadi cita-cita yang menurut saya banyak ditinggalkan kaum anak-anak dan kaum dewasa saat ini. Ya, saya bercita-cita menjadi Doktor kemudian Professor! Mengapa saya bisa berkata bahwa cita-cita ini tidak banyak dilirik orang? Beberapa pekan lalu, saya hadir dalam sebuah forum mahasiswa. Setiap mahasiswa mengungkapkan cita-citanya. Saya waktu itu mendapat giliran terakhir setelah 20-an orang menyatakan cita-citanya. Tidak ada satupun cita-cita yang sama. Coba tebak, apa cita-cita mereka semua? Hampir semua bercita-cita sebagai seorang wirausahawan di bidang pertanian dan kuliner, sebagian lagi bercita-cita sebagai politisi dan menteri, bahkan istri menteri. Semua cita-cita yang dahulu sempat menggayut dalam pikiran saya. ...

Patutkah Mereka Dipersalahkan? sebuah renungan anggapan miris saat ini

Bismillaahirrohmaanirrohiim Dengan kekuatan cinta inilah duri dalam mawar berubah menjadi pakuan kehidupan. Dengan kelemahan hati itulah melati dengan wangi yang semerbak menjadi tumpukan sampah tak berarti. Belakangan ini saya merasakan atmosfer yang berbeda. Di tempat kedua saya dalam menjalani tarbiyah (baca:pendidikan) ini. Warnanya seakan menjadi pucat pasi setelah kuning bahkan merah! Semangat yang awalnya menjadi titian saya untuk berpijak lebih lanjut, tapi kini menjadi suram untuk berlanjut. Apa sih yang membuat mereka seperti ini? Mengapa harus mengurusi masalah ini sedangkan masih ada permasalahan lain yang lebih membelit. Mengapa harus mencari-cari "kesalahan" yang sebenarnya bukan kesalahan tapi justru membiarkan kesalahan yang dianggap ''kebenaran''? Untukmu wahai muballighot, biarkanlah permasalahan yang membelit dirimu adalah bagian dari pengujian imanmu. Ujian yang akan membuat akhir hidup lebih indah tuk dikenang. Tetaplah berjuang uk...