Langsung ke konten utama

Berawal dari inilah saya berjuang...

Awal yang panjang ini mulai menandai hidup penuh keberkahan
Melewati secercah harapan nan kepastian.
Antunna semua hadir dalam diri ini
Mengajak saya mulai berirama membentuk sebuah misi kebaikan,
tapi,,,
wajah ini tak bisa. belum bisa..
terpatri dengan mu, melebur dengan mu
Aku hanyalah sosok perindu Tuhan yang menangkis halauan cahaya suci dari setitik perjuanganmu

Antunna benar.. itu adalah sesuatu yang haq.
Tapi jiwa ini masih merunduk dengan hal itu
Aku katakan, ya aku setuju
Tapi, apa kata?
Perjuangan anutunna sekalian membuat kami berada pada titik negosiasi keutamaan ideologitas

Aku tetap yakin
Bahwa sekarang, yang saya tekuni
adalah jalan hidup yan telah kupilih
Terangkai bersama dengan ikatan indah, lara, harapan, ketidakpastian
Menanti sebuah golongan yang benar
yang dijanjikan Allah

saya bangga..
sebagai...
kadermu...
wahai Dahlan
sang Pencerah, pengajak yang haq, pencegah kemungkaran
dan seperti katamu
"saya tidak pernah berpikiran seberat zarah pun, bahwa umat islam adalah musuhku"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Celupkan Jarimu Ke Air Lautan (Taufiq Ismail)

Bertanya seseorang pada junjungan kita; Wahai Rasulullah tercinta Bandingkan dunia kini dengan akhirat nanti Menjawab Rasulullah Sallallahu’alaihiwassalam; Celupkan jarimu ke air lautan Air yang menetes dari ujung jarimu Itulah dunia seisinya Air yang selebihnya di lautan Air yang seluruh di samudra Itulah akhirat nanti Wahai alangkah kecil arti dunia Wahai alangkah kerdil arti dunia Wahai alangkah remeh arti dunia Wahai alangkah wahai Tak berartinya dunia Yang mengejar akhirat Akan mendapatkan akhirat dan dunia Yang mengejar dunia Cuma mendapat dunia

INI CITA-CITA KU!

Cita-cita dan harapan, dua kata yang hampir bermakna sama. Saya lebih suka menyebutnya dengan cita-cita. Cita-cita dahulu dan kini memang bisa berbeda. Jika dahulu saya punya cita-cita untuk menjadi seorang dokter, maka hari ini saya tinggikan cita-cita saya, menjadi cita-cita yang menurut saya banyak ditinggalkan kaum anak-anak dan kaum dewasa saat ini. Ya, saya bercita-cita menjadi Doktor kemudian Professor! Mengapa saya bisa berkata bahwa cita-cita ini tidak banyak dilirik orang? Beberapa pekan lalu, saya hadir dalam sebuah forum mahasiswa. Setiap mahasiswa mengungkapkan cita-citanya. Saya waktu itu mendapat giliran terakhir setelah 20-an orang menyatakan cita-citanya. Tidak ada satupun cita-cita yang sama. Coba tebak, apa cita-cita mereka semua? Hampir semua bercita-cita sebagai seorang wirausahawan di bidang pertanian dan kuliner, sebagian lagi bercita-cita sebagai politisi dan menteri, bahkan istri menteri. Semua cita-cita yang dahulu sempat menggayut dalam pikiran saya. ...