Langsung ke konten utama

Shocking Month #1 ; Bedah Buku 99 Cahaya di Langit Eropa

Salut banget untuk perjalanan panjang bulan ini. Setelah menunggu selama satu bulan, akhirnya dapat info kalau bakal ada acara bedah buku "99 Cahaya di Langit Eropa"... Nggak perlu lama buat takjub sama novel non fiksi karya mbak Hanum Salsabila Rais dan mas Rangga Almahendra. Sekali baca cover-nya dijamin 'ngebet' baca novel sampai akhir. Saking sukanya sama novel ini, saya rela mengambil uang modal pulsa hehe. Dan merogoh saku sedikit -eh lumayan- karena di toko buku diskon stok buku ini udah habissssssssss. Terpaksa beli di toko buku yang penuh dengan hiasan natal sepanjang hari sepanjang bulan sepanjang tahun -ykwimean-.

Acara bedah buku...
Ternyata bangku depan masih kosong walau sudah melirik jam -sudah terlambat-. Nggak usah heran, acara beginian nggak terlalu diminati, padahal di pamflet sudah dikasih 'embel-embel' "kelas X wajib datang". Well, yang datang justru banyak dari kelas XII. Oiya suatu hari waktu aku pergi beli 'celengan ayam' sama temen rumah, colek @Kurnia Afifah. Temen saya yang imut ini heran saat saya masih senang baca novel "Kowe we kelas telu (XII, pen.) kok masih seneng baca novel?". Dengan santai saya menjawab, "Aku belum punya semangat belajar. Motivasi donkkkk." Pyarrrrrrrrr.
Kembali ke bedah buku! Sayang sekali mbak Hanum nggak bisa datang karena sakit... -semoga lekas sembuh-. Nah, narasumber yakni mas Rangga Almahendra banyak menerangkan tentang latar belakang mengapa buku ini ditulis. Dan bonus satu kisah yang tidak diterangkan dalam buku. (Kasih tahu nggak ya?). Yang pasti sebagai seorang muslim yang baik kita kudu jadi 'agen muslim' yang baik. Terkadang sadar atau tidak perilaku kita bisa menjadi simbol bagaimana ajaran islam. Maka dari itu mas Rangga dan mbak Hanum berusaha menjadi agen muslim yang baik di Eropa sana dan juga di Indonesia sekarang. Cukup inspiratif sekali. Kita harus menjadi agen muslim yang baik.
Alhamdulillaah dapat tanda tangannya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Celupkan Jarimu Ke Air Lautan (Taufiq Ismail)

Bertanya seseorang pada junjungan kita; Wahai Rasulullah tercinta Bandingkan dunia kini dengan akhirat nanti Menjawab Rasulullah Sallallahu’alaihiwassalam; Celupkan jarimu ke air lautan Air yang menetes dari ujung jarimu Itulah dunia seisinya Air yang selebihnya di lautan Air yang seluruh di samudra Itulah akhirat nanti Wahai alangkah kecil arti dunia Wahai alangkah kerdil arti dunia Wahai alangkah remeh arti dunia Wahai alangkah wahai Tak berartinya dunia Yang mengejar akhirat Akan mendapatkan akhirat dan dunia Yang mengejar dunia Cuma mendapat dunia

INI CITA-CITA KU!

Cita-cita dan harapan, dua kata yang hampir bermakna sama. Saya lebih suka menyebutnya dengan cita-cita. Cita-cita dahulu dan kini memang bisa berbeda. Jika dahulu saya punya cita-cita untuk menjadi seorang dokter, maka hari ini saya tinggikan cita-cita saya, menjadi cita-cita yang menurut saya banyak ditinggalkan kaum anak-anak dan kaum dewasa saat ini. Ya, saya bercita-cita menjadi Doktor kemudian Professor! Mengapa saya bisa berkata bahwa cita-cita ini tidak banyak dilirik orang? Beberapa pekan lalu, saya hadir dalam sebuah forum mahasiswa. Setiap mahasiswa mengungkapkan cita-citanya. Saya waktu itu mendapat giliran terakhir setelah 20-an orang menyatakan cita-citanya. Tidak ada satupun cita-cita yang sama. Coba tebak, apa cita-cita mereka semua? Hampir semua bercita-cita sebagai seorang wirausahawan di bidang pertanian dan kuliner, sebagian lagi bercita-cita sebagai politisi dan menteri, bahkan istri menteri. Semua cita-cita yang dahulu sempat menggayut dalam pikiran saya. ...