Langsung ke konten utama

Baca Buku

Akhir-akhir ini terasa ada yang mengganjal. Saya merasa jadi orang yang "nggak dan malas berprogress". Rutinitas ke kampus (masuk laboratorium, mengerjakan proposal, atau sekedar ngobrol kesana-sini) membuat diri ini jadi orang yang "stagnan", "biasa-biasa aja".
Baru tadi siang saya pergi ke Klinik (ketemu dokter ganteng hehe), rasa lelah dan mumet lumayan sudah hilang di sore ini. Entah karena the miracle of doctor atau efek obatnya (yang benar semua karena kehendak Allah hehe).
Baiklah, sore ini saya memutuskan pergi ke Perpustakaan Alternatif Kota Yogyakarta (Pervita). Saya menulis ini di perpustakaan setelah usai mengirim Rancangan Anggaran Belanja untuk proposal tesis yang diajukan ke universitas.Ya begitulah, menjadi mahasiswa pascasarjana nggak semudah yang dibayangkan. Teringat dokter tadi siang berkata "Cuma kelelahan aja, istirahat yang cukup". Padahal aslinya, saya bukan tipe-tipe yang mau nglembur, hanya sesekali dalam seminggu tidur jam 1.
Balik lagi ke sesuatu yang mengganjal. Allah mungkin sudah menunjukkan jalan-Nya. Allah bimbing saya masuk ke perpustakaan dan rasanya seperti tertampar. Hobi saya yang dari dulu saya tulis di biodata hilang!!!
Mudah ketebak ya hobinya, apalagi kalau bukan baca buku!
Sudah lama sekali rasanya saya nggak membaca buku. Yang saya ingat, buku terakhir saya baca itu..... Apa yaaa, ya Allah, benar-benar lupa 😔
Padahal niat awal saya ke perpustakaan hanya untuk numpang Wifi, ternyata niat saya terlalu sempit. Sempit sekali buat seorang mahasiswa pascasarjana yang sebulan aja nggak bisa menghabiskan 1 buah buku.
Mari memulai dari awal lagi, hilangkan kebengongan dengan buku, hilangkan baca webtoon dengan buku, hilangkan rasa lelah dengan buku. Everyone deserves to be better! Let's take a book and read 💞💪

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Celupkan Jarimu Ke Air Lautan (Taufiq Ismail)

Bertanya seseorang pada junjungan kita; Wahai Rasulullah tercinta Bandingkan dunia kini dengan akhirat nanti Menjawab Rasulullah Sallallahu’alaihiwassalam; Celupkan jarimu ke air lautan Air yang menetes dari ujung jarimu Itulah dunia seisinya Air yang selebihnya di lautan Air yang seluruh di samudra Itulah akhirat nanti Wahai alangkah kecil arti dunia Wahai alangkah kerdil arti dunia Wahai alangkah remeh arti dunia Wahai alangkah wahai Tak berartinya dunia Yang mengejar akhirat Akan mendapatkan akhirat dan dunia Yang mengejar dunia Cuma mendapat dunia

INI CITA-CITA KU!

Cita-cita dan harapan, dua kata yang hampir bermakna sama. Saya lebih suka menyebutnya dengan cita-cita. Cita-cita dahulu dan kini memang bisa berbeda. Jika dahulu saya punya cita-cita untuk menjadi seorang dokter, maka hari ini saya tinggikan cita-cita saya, menjadi cita-cita yang menurut saya banyak ditinggalkan kaum anak-anak dan kaum dewasa saat ini. Ya, saya bercita-cita menjadi Doktor kemudian Professor! Mengapa saya bisa berkata bahwa cita-cita ini tidak banyak dilirik orang? Beberapa pekan lalu, saya hadir dalam sebuah forum mahasiswa. Setiap mahasiswa mengungkapkan cita-citanya. Saya waktu itu mendapat giliran terakhir setelah 20-an orang menyatakan cita-citanya. Tidak ada satupun cita-cita yang sama. Coba tebak, apa cita-cita mereka semua? Hampir semua bercita-cita sebagai seorang wirausahawan di bidang pertanian dan kuliner, sebagian lagi bercita-cita sebagai politisi dan menteri, bahkan istri menteri. Semua cita-cita yang dahulu sempat menggayut dalam pikiran saya. ...