Langsung ke konten utama

Hidup secangkir kopi

sumber gambar : kolom abatasa.co.id
Dalam islam, kehidupan manusia di dunia tidak akan pernah abadi. Setiap jiwa akan merasakan kematian, bukan hanya manusia saja melainkan seluruh makhluk hidup yang bernyawa. Terkadang kita merenung, mengapa kita diciptakan untuk hidup di dunia ini? Mengapa harus ada kematian? Mengapa Alloh menciptakan syurga dan neraka? Semua pertanyaan tersebut layak ditanyakan oleh tiap manusia yang ingin mengerti hakikat hidup sebenarnya.

Jawaban yang paling sempurna adalah jawaban langsung dari pencipta kehidupan. Siapa lagi kalau bukan Zat yang Maha segalanya, Alloh subhanahu wata'ala...
ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْØ¥ِÙ†ْسَ Ø¥ِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Adz-Dzariyat : 56)
Ibarat bertamu di rumah orang lain, meminum segelas kopi dan pamit untuk pulang. Itulah kehidupan kita, begitu singkat. Kopi yang pahit dicampur dengan gula yang manis, kehidupan yang terkadang sulit namun tak sedikit pula kebahagiaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Celupkan Jarimu Ke Air Lautan (Taufiq Ismail)

Bertanya seseorang pada junjungan kita; Wahai Rasulullah tercinta Bandingkan dunia kini dengan akhirat nanti Menjawab Rasulullah Sallallahu’alaihiwassalam; Celupkan jarimu ke air lautan Air yang menetes dari ujung jarimu Itulah dunia seisinya Air yang selebihnya di lautan Air yang seluruh di samudra Itulah akhirat nanti Wahai alangkah kecil arti dunia Wahai alangkah kerdil arti dunia Wahai alangkah remeh arti dunia Wahai alangkah wahai Tak berartinya dunia Yang mengejar akhirat Akan mendapatkan akhirat dan dunia Yang mengejar dunia Cuma mendapat dunia

INI CITA-CITA KU!

Cita-cita dan harapan, dua kata yang hampir bermakna sama. Saya lebih suka menyebutnya dengan cita-cita. Cita-cita dahulu dan kini memang bisa berbeda. Jika dahulu saya punya cita-cita untuk menjadi seorang dokter, maka hari ini saya tinggikan cita-cita saya, menjadi cita-cita yang menurut saya banyak ditinggalkan kaum anak-anak dan kaum dewasa saat ini. Ya, saya bercita-cita menjadi Doktor kemudian Professor! Mengapa saya bisa berkata bahwa cita-cita ini tidak banyak dilirik orang? Beberapa pekan lalu, saya hadir dalam sebuah forum mahasiswa. Setiap mahasiswa mengungkapkan cita-citanya. Saya waktu itu mendapat giliran terakhir setelah 20-an orang menyatakan cita-citanya. Tidak ada satupun cita-cita yang sama. Coba tebak, apa cita-cita mereka semua? Hampir semua bercita-cita sebagai seorang wirausahawan di bidang pertanian dan kuliner, sebagian lagi bercita-cita sebagai politisi dan menteri, bahkan istri menteri. Semua cita-cita yang dahulu sempat menggayut dalam pikiran saya. ...