Langsung ke konten utama

Dilema...

Dilema berat kadang membuat badan ini semakin terpuruk.
Tetapi urusan hati lebih menyakitkan lagi, lebih dari terpuruk, bahkan seperti terhantam oleh meriam!
Jika membiarkan hati ini terus menerus hancur, maka saya pastikan bahwa saya akan mengambil jalan lain yang sangat ekstrim, melebihi cara orang yang membuat nurani dan bibir saya berkecamuk.
Saya mungkin bisa menyembunyikan itu semua, tapi suatu saat akan ada kebenaran yang lebih indah dari drama menyedihkan ini.
Terakhir, saya hanya ingin menyusuri jalan dakwah ini dengan hati yang tulus, tanpa terpaksa, tanpa sebuah "lambang". Dan biarlah orang mengatakan saya adalah satu dari seribu orang yang "berguguran di jalan dakwah"...
Tapi saya yakin, akan ada seribu jalan lain dalam dakwah... disini, bersama kalian, bersama wajah-wajah pengabdian!
Islam adalah satu, satu adalah islam.
“Seorang muslim adalah saudara bagi sesama muslim lainnya. Tidak boleh menganiaya ataupun. Membiarkan dianiaya. Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya maka Alloh akan memenuhi kebutuhan nya. Barang siapa membebaskan kesusahan nya, maka Alloh akan membebaskan kesusahan nya di hari kiamat. Barang siapa menutupi aib nya, maka Alloh akan menutupi aib nya dihari kiamat “(H.R Bukhori)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Celupkan Jarimu Ke Air Lautan (Taufiq Ismail)

Bertanya seseorang pada junjungan kita; Wahai Rasulullah tercinta Bandingkan dunia kini dengan akhirat nanti Menjawab Rasulullah Sallallahu’alaihiwassalam; Celupkan jarimu ke air lautan Air yang menetes dari ujung jarimu Itulah dunia seisinya Air yang selebihnya di lautan Air yang seluruh di samudra Itulah akhirat nanti Wahai alangkah kecil arti dunia Wahai alangkah kerdil arti dunia Wahai alangkah remeh arti dunia Wahai alangkah wahai Tak berartinya dunia Yang mengejar akhirat Akan mendapatkan akhirat dan dunia Yang mengejar dunia Cuma mendapat dunia

INI CITA-CITA KU!

Cita-cita dan harapan, dua kata yang hampir bermakna sama. Saya lebih suka menyebutnya dengan cita-cita. Cita-cita dahulu dan kini memang bisa berbeda. Jika dahulu saya punya cita-cita untuk menjadi seorang dokter, maka hari ini saya tinggikan cita-cita saya, menjadi cita-cita yang menurut saya banyak ditinggalkan kaum anak-anak dan kaum dewasa saat ini. Ya, saya bercita-cita menjadi Doktor kemudian Professor! Mengapa saya bisa berkata bahwa cita-cita ini tidak banyak dilirik orang? Beberapa pekan lalu, saya hadir dalam sebuah forum mahasiswa. Setiap mahasiswa mengungkapkan cita-citanya. Saya waktu itu mendapat giliran terakhir setelah 20-an orang menyatakan cita-citanya. Tidak ada satupun cita-cita yang sama. Coba tebak, apa cita-cita mereka semua? Hampir semua bercita-cita sebagai seorang wirausahawan di bidang pertanian dan kuliner, sebagian lagi bercita-cita sebagai politisi dan menteri, bahkan istri menteri. Semua cita-cita yang dahulu sempat menggayut dalam pikiran saya. ...