Langsung ke konten utama

Detik ke-5

Teringat, waktu kemarin ada di markaz.
Aku    : Mif, aku baru sadar. Lagunya edcoustic ada yg galau abis.
Miftah : Yang mana,ta?
Aku    : Buka netbookmu, lagu edcoustic yang jaman dulu. "nantikanku di batas waktu"
Miftah : Kok liriknya gak jelas?
Aku    : Searching liriknya

mari kita dengarkan...

Dikedalaman hatiku tersembunyi harapan yang suci
Tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata

Sungguh walau kukelu tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan

Kalau memang kau pilihkan aku
Tunggu sampai aku datang nanti
Kubawa kau pergi kesyurga abadi

Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu
Nantikanku dibatas waktu


Miftah : Aku ra dong ta'.
Aku    : Podo aku yo ra dong.
Miftah : Aku cuma tahu yang bagian ini 'Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu. Nantikanku dibatas waktu.

Ternyata ya, selama ini pendengaran saya kurang jeli. Jelas-jelas ini lirik 'dewasa', tapi kenapa jaman SD udah denger yang beginian, sampai hafal pula.
Lagu Nasyid ini ternyata juga punya pengalaman kontroversi, banyak yang menghujat, banyak pula yang menggandrungi. Ada artikel tentang lagu ini di blog mas aden


Wa 'afuu minkum

Komentar

  1. kasih reward klo namanya udah disebut :D
    knp kita bisa ketemu di teladan yah? masyaAllah.. :)

    BalasHapus
  2. maksudnya apa ta'?
    reward? hmm,, apa ya,,

    oh ya, selamat aja deh, nama kita sama,,, :-)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Celupkan Jarimu Ke Air Lautan (Taufiq Ismail)

Bertanya seseorang pada junjungan kita; Wahai Rasulullah tercinta Bandingkan dunia kini dengan akhirat nanti Menjawab Rasulullah Sallallahu’alaihiwassalam; Celupkan jarimu ke air lautan Air yang menetes dari ujung jarimu Itulah dunia seisinya Air yang selebihnya di lautan Air yang seluruh di samudra Itulah akhirat nanti Wahai alangkah kecil arti dunia Wahai alangkah kerdil arti dunia Wahai alangkah remeh arti dunia Wahai alangkah wahai Tak berartinya dunia Yang mengejar akhirat Akan mendapatkan akhirat dan dunia Yang mengejar dunia Cuma mendapat dunia

INI CITA-CITA KU!

Cita-cita dan harapan, dua kata yang hampir bermakna sama. Saya lebih suka menyebutnya dengan cita-cita. Cita-cita dahulu dan kini memang bisa berbeda. Jika dahulu saya punya cita-cita untuk menjadi seorang dokter, maka hari ini saya tinggikan cita-cita saya, menjadi cita-cita yang menurut saya banyak ditinggalkan kaum anak-anak dan kaum dewasa saat ini. Ya, saya bercita-cita menjadi Doktor kemudian Professor! Mengapa saya bisa berkata bahwa cita-cita ini tidak banyak dilirik orang? Beberapa pekan lalu, saya hadir dalam sebuah forum mahasiswa. Setiap mahasiswa mengungkapkan cita-citanya. Saya waktu itu mendapat giliran terakhir setelah 20-an orang menyatakan cita-citanya. Tidak ada satupun cita-cita yang sama. Coba tebak, apa cita-cita mereka semua? Hampir semua bercita-cita sebagai seorang wirausahawan di bidang pertanian dan kuliner, sebagian lagi bercita-cita sebagai politisi dan menteri, bahkan istri menteri. Semua cita-cita yang dahulu sempat menggayut dalam pikiran saya. ...