Langsung ke konten utama

Kaulah Permata yang Hilang


Tulisan ini dibuat untuk orang yang spesial, di luar sana, mungkin sedang berjuang keras untuk menyiapkan Ujian Nasional yang tinggal beberapa bulan lagi.
Saudariku..
Yang pertama aku ingin minta maaf atas kelalaian masa laluku,
Yang membuat bekas luka di hati,
Waktu itu aku memang egois, tak pernah menghargai orang lain
Dulu.. yang ku mau adalah ‘aku yang terhebat’
Maaf.. karena aku baru menyadarinya belakangan ini,
dari seseorang yang menyatakan keresahan hati saudariku ini tanpa menyebutkan siapa yang membuat resah.
Seketika itu aku sadar,
Mulai berpikir, dan akulah yang meresahkan saudariku ini
Membuat hatinya tertusuk oleh pengorbanan yang dilakukan…
Andai aku tahu dari dulu… ah.. buat apa menyesal?
Namun yakinlah saudariku…
Engkau adalah akhwat terhebat, yang membuat aku tahu arti kasih sayang.
Allah sangat sayang padamu, Allah telah menunjuk engkau tuk jadikan aku tahu segalanya…
Sesuatu yang membuat aku menyadari…
akulah manusia yang bangga dengan kesombongannnya,
akulah yang merasa aman saat semua terlihat tersenyum padaku,
padahal tidak! Mereka yang tersenyum ternyata juga menyimpan keresahan yang dulu pernah engkau rasakan
Maafkan aku.. maaf, wahai saudari-saudariku
Antunna adalah orang-orang yang membuat pelangi, hujan, dan mentari dalam hidupku
Tak indah tanpamu, tak rupa tanpa jiwamu
Aku mencintai saudariku semua, karena Allah aku mencintai kalian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Celupkan Jarimu Ke Air Lautan (Taufiq Ismail)

Bertanya seseorang pada junjungan kita; Wahai Rasulullah tercinta Bandingkan dunia kini dengan akhirat nanti Menjawab Rasulullah Sallallahu’alaihiwassalam; Celupkan jarimu ke air lautan Air yang menetes dari ujung jarimu Itulah dunia seisinya Air yang selebihnya di lautan Air yang seluruh di samudra Itulah akhirat nanti Wahai alangkah kecil arti dunia Wahai alangkah kerdil arti dunia Wahai alangkah remeh arti dunia Wahai alangkah wahai Tak berartinya dunia Yang mengejar akhirat Akan mendapatkan akhirat dan dunia Yang mengejar dunia Cuma mendapat dunia

INI CITA-CITA KU!

Cita-cita dan harapan, dua kata yang hampir bermakna sama. Saya lebih suka menyebutnya dengan cita-cita. Cita-cita dahulu dan kini memang bisa berbeda. Jika dahulu saya punya cita-cita untuk menjadi seorang dokter, maka hari ini saya tinggikan cita-cita saya, menjadi cita-cita yang menurut saya banyak ditinggalkan kaum anak-anak dan kaum dewasa saat ini. Ya, saya bercita-cita menjadi Doktor kemudian Professor! Mengapa saya bisa berkata bahwa cita-cita ini tidak banyak dilirik orang? Beberapa pekan lalu, saya hadir dalam sebuah forum mahasiswa. Setiap mahasiswa mengungkapkan cita-citanya. Saya waktu itu mendapat giliran terakhir setelah 20-an orang menyatakan cita-citanya. Tidak ada satupun cita-cita yang sama. Coba tebak, apa cita-cita mereka semua? Hampir semua bercita-cita sebagai seorang wirausahawan di bidang pertanian dan kuliner, sebagian lagi bercita-cita sebagai politisi dan menteri, bahkan istri menteri. Semua cita-cita yang dahulu sempat menggayut dalam pikiran saya. ...