Langsung ke konten utama

Teka-teki Hidup

Kehidupan memang layak disebut teka-teki. Selalu ingin menebak apa yang terjadi esok hari, bahkan satu detik nanti. Kehidupan juga selalu menyisakan berjuta tanda tanya. Semua jawaban atas pertanyaan dalam kehidupan selalu saya nantikan, entah dari spekulasi segelintir manusia atau yang paling penting esok ketika Alloh membuka rahasia-Nya.

Sewaktu saya duduk di bangku sekolah dasar, pertanyaan pertama yang saya tanyakan tentang kehidupan adalah "Mengapa saya menjadi manusia? Mengapa saya tinggal di bumi? Mengapa harus ada syurga dan neraka, kehidupan dunia dan akhirat?".
Seiring waktu akhirnya saya mengerti jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Puasnya jawaban adalah saat guru SMA saya menerangkan jawaban tersebut dengan baik. Katanya "Tidaklah Ku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahku" Itulah firman Alloh dalam Q.S Adz-Dzariyat ayat 56.

Pertanyaan kedua, kira-kira 10 tahun yang lalu, saya ajukan pada orang tua saya. "Pak, mengapa bapak bukan presiden?". Saya masih ingat Bapak menjawabnya dengan "bijak" sambil menyetir perlahan, katanya "Kalau bapak jadi presiden, kita tidak bisa jalan-jalan atau makan bersama seperti ini". Jawaban yang sudah cukup membuat saya tahu apa arti takdir dan bersyukur.

Pertanyaan selanjutnya, saya bertanya dalam diri saya sendiri "Bukankah Alloh menciptakan makhluk itu sama, tetapi mengapa ada orang yang diberikan kecerdasan tinggi ada pula yang biasa saja?". Dan pertanyaan tersebut terjawablah sudah ketika saya melihat kebesaran Alloh memberikan kehidupan dengan siang dan malam, matahari dan bulan, wanita dan laki-laki. Berbeda tetapi saling melengkapi, itulah kehidupan.

Pertanyaan keempat hadir ketika saya banyak bergaul dengan orang-orang berbeda iman. Saya bertanya "Alhamdulillah saya lahir sebagai seorang muslim, tetapi bagaimana dengan teman-teman saya yang lahir dari keluarga non muslim? Apakah mereka pasti mendapat hidayah? Jika mereka tidak mendapatkannya, lantas mereka masuk neraka?"
Maka jawaban dari pertanyaan ini saya dapatkan setelah membaca tiap arti ayat-ayat dalam Al-Quran. Sejak saat itu saya menyadari bahwa belum cukup untuk dapat membaca Al-Qur'an saja, memahaminya adalah suatu kewajiban.

Maka, setiap pertanyaan pasti mempunyai jawaban. Meskipun saya telah banyak menemukan jawaban atas pertanyaan kehidupan, tetap saja saya masih menantikan jawaban sesungguhnya dari Pencipta Alam Raya ini. Manusia hanya bisa berspekulasi, apalagi tanpa dalil yang jelas...
Semoga kita dipertemukan di syurga-Nya kelak..


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Celupkan Jarimu Ke Air Lautan (Taufiq Ismail)

Bertanya seseorang pada junjungan kita; Wahai Rasulullah tercinta Bandingkan dunia kini dengan akhirat nanti Menjawab Rasulullah Sallallahu’alaihiwassalam; Celupkan jarimu ke air lautan Air yang menetes dari ujung jarimu Itulah dunia seisinya Air yang selebihnya di lautan Air yang seluruh di samudra Itulah akhirat nanti Wahai alangkah kecil arti dunia Wahai alangkah kerdil arti dunia Wahai alangkah remeh arti dunia Wahai alangkah wahai Tak berartinya dunia Yang mengejar akhirat Akan mendapatkan akhirat dan dunia Yang mengejar dunia Cuma mendapat dunia

INI CITA-CITA KU!

Cita-cita dan harapan, dua kata yang hampir bermakna sama. Saya lebih suka menyebutnya dengan cita-cita. Cita-cita dahulu dan kini memang bisa berbeda. Jika dahulu saya punya cita-cita untuk menjadi seorang dokter, maka hari ini saya tinggikan cita-cita saya, menjadi cita-cita yang menurut saya banyak ditinggalkan kaum anak-anak dan kaum dewasa saat ini. Ya, saya bercita-cita menjadi Doktor kemudian Professor! Mengapa saya bisa berkata bahwa cita-cita ini tidak banyak dilirik orang? Beberapa pekan lalu, saya hadir dalam sebuah forum mahasiswa. Setiap mahasiswa mengungkapkan cita-citanya. Saya waktu itu mendapat giliran terakhir setelah 20-an orang menyatakan cita-citanya. Tidak ada satupun cita-cita yang sama. Coba tebak, apa cita-cita mereka semua? Hampir semua bercita-cita sebagai seorang wirausahawan di bidang pertanian dan kuliner, sebagian lagi bercita-cita sebagai politisi dan menteri, bahkan istri menteri. Semua cita-cita yang dahulu sempat menggayut dalam pikiran saya. ...