Langsung ke konten utama

Ssstt Kenapa Harus Nyontek?


Kemarin Senin aku dapat nilai buruk diulangan kimia. Alhamdulillah dapat nilai kurang dari KKM. Alhasil harus mengulang. Tapi yang jadi masalah gini. Cuma aku yang dapet nilai segitu. Yang lain dapet 9,10.. ah... Jujur ya, aku gak belajar sih..

Tapi yang mau kita bahas bukan itu. Sebenarnya, nilai itu untuk menguji kemampuan kita to? Aku kira semua orang paham tentang itu. Tapi, apakah mereka menerapkannya?? Coba kita bayangkan jika seseorang mencotek tapi hasilnya sama dengan yang tidak mencontek (sama-sama dapat nilai jelek). Alesannya adalah karena dia belum belajar dan merasa gak bisa. Alhasil dia tetep dapet hasil ulangan seperti yang tidak mencontek. Tapi, caranya beda kan?

Atau mungkin curang saat mengoreksi pekerjaan temennya?

Buat apa sih nglakuin kayak gitu? Ya walaupun itu cuma ulangan, tapi kan itu juga berdampak dalam kehidupan kedepannya kan? Kalau kita sudah terbiasa berbuat curang, maka untuk melakukan suatu kecurangan lagi itu merasa gak jadi masalah, iya kan?

Sewaktu aku masih awal-awal di SMA dan mengikuti program pendampingan (pendampingan itu semacam forum diskusi, sharing,dll, ada 1 atau 2 kakak kelas dan beberapa murid baru) Nah, waktu itu aku dibilangin mbak pendampingku. Katanya nih, mencontek itu bisa (baca:hampir) dimasukan dalam kategori syirik atau menyekutukan Allah. Mengapa?
Karena ketika kita menyontek maka kita berbuat curang, sama saja meminta bantuan kepada orang lain, kan? Bukankah kalau berserah diri itu seharusnya meminta bantuan kepada Allah?

Ada yang berpendapat itu bukan termasuk syirik.. Yang pasti Nabi Muhammad saw tidak pernah menyuruh kita berbuat curang, kan?

Just believe your self! You have a lot of abilities, but you don't want to improve all, do you? if you are in trouble, just leave it all to Allah!
Allah is according what people think

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Celupkan Jarimu Ke Air Lautan (Taufiq Ismail)

Bertanya seseorang pada junjungan kita; Wahai Rasulullah tercinta Bandingkan dunia kini dengan akhirat nanti Menjawab Rasulullah Sallallahu’alaihiwassalam; Celupkan jarimu ke air lautan Air yang menetes dari ujung jarimu Itulah dunia seisinya Air yang selebihnya di lautan Air yang seluruh di samudra Itulah akhirat nanti Wahai alangkah kecil arti dunia Wahai alangkah kerdil arti dunia Wahai alangkah remeh arti dunia Wahai alangkah wahai Tak berartinya dunia Yang mengejar akhirat Akan mendapatkan akhirat dan dunia Yang mengejar dunia Cuma mendapat dunia

INI CITA-CITA KU!

Cita-cita dan harapan, dua kata yang hampir bermakna sama. Saya lebih suka menyebutnya dengan cita-cita. Cita-cita dahulu dan kini memang bisa berbeda. Jika dahulu saya punya cita-cita untuk menjadi seorang dokter, maka hari ini saya tinggikan cita-cita saya, menjadi cita-cita yang menurut saya banyak ditinggalkan kaum anak-anak dan kaum dewasa saat ini. Ya, saya bercita-cita menjadi Doktor kemudian Professor! Mengapa saya bisa berkata bahwa cita-cita ini tidak banyak dilirik orang? Beberapa pekan lalu, saya hadir dalam sebuah forum mahasiswa. Setiap mahasiswa mengungkapkan cita-citanya. Saya waktu itu mendapat giliran terakhir setelah 20-an orang menyatakan cita-citanya. Tidak ada satupun cita-cita yang sama. Coba tebak, apa cita-cita mereka semua? Hampir semua bercita-cita sebagai seorang wirausahawan di bidang pertanian dan kuliner, sebagian lagi bercita-cita sebagai politisi dan menteri, bahkan istri menteri. Semua cita-cita yang dahulu sempat menggayut dalam pikiran saya. ...